Kota Kebanggaan SumSel

Palembang Of International City

ES Kacang Merah


es ini sering sekali di jumpai di palembang, selain di tempat-tempat umum es ini juga di jual di sekolah-sekolah sebagai jajanan untuk pelajar. karna rasanya yang membuat ketagihan. jika telah merasakan NIKmatnya Pempek dan Kemplang Palembang tentunya juga harus merasakan segarnya Es Kacang Merah sebagai penutupnya. Es ini sejenis es serut yang berisi kacang merah, diberi kayu manis dan Susu sebagai pelengkap atau biasanya ditambah dengan ketan hitam. namun kita dapat memesan sesuai selera kita.
 

Bahan

  • 300 gram kacang merah kering
  • 5 cm kayu manis
  • 700 ml air
  • 250 gram gula merah, iris
  • Es serut secukupnya
  • 10 sdm susu kental manis cokelat
Cara membuat
  1. rendam kacang merah sampai mengembang, cuci, tiriskan. Rebus bersama kayu manis sampai mulai empuk. Angkat dan sisihkan.
  2. masak air bersama gula merah sampai gula hancur. Angkat dan saring. Didihkan air gula kembali bersama kacang merah. Masak sampai kacang benar-benar empuk dan air menyusut. Angkat.
  3. tempatkan kacang merah didalam mangkuk, beri es serut secukupnya. Siramkan susu kental manis cokelat diatasnya.
READMORE
 

Stadion Glora Sriwijaya

Stadion Gelora Sriwijaya (juga disebut Stadion Jakabaring) adalah stadion multifungsi terbesar ketiga di Indonesia setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Palaran. Berlokasi di Palembang, Indonesia, stadion ini juga diakui sebagai salah satu stadion terbaik yang bertaraf internasional. Kebanyakan, stadion ini difungsikan untuk tempat penyelenggaraan pertandingan-pertandingan sepak bola. Stadion dengan luas lahan sekitar 40 hektar ini dapat memuat hingga 36.000 - 40.000 orang dengan 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Tribun utama di sisi barat dan timur (A dan B) dilindungi atap yang ditopang 2 pelengkung (arch) baja berukuran raksasa. Bentuk atap stadion merupakan simbol kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di bidang maritim yang dilambangkan oleh bentuk perahu dengan layar terkembang. Stadion ini beralamat di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang.

Sejarah Pembangunan 
Stadion yang mulai bangun pada tanggal 1 Januari 2001 ini ditujukan untuk menyelenggarakan PON XVI ketika Kota Palembang ditunjuk sebagai penyelenggara pada tanggal 2 September 2004. Stadion ini diberi nama berdasarkan kemaharajaan maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan berhasil mempersatukan wilayah barat Nusantara pada abad 7 sampai dengan abad 12. Selain itu stadion ini juga merupakan markas dari klub sepak bola Indonesia, Sriwijaya FC. Stadion ini dipakai sebagai salah satu stadion yang menyelenggarakan pertandingan dalam Piala Asia 2007 sebagai pendamping Stadion Utama Gelora Bung Karno pada hari pertandingan ketiga dan juga perebutan tempat ketiga.Hasil verifikasi AFC menjadikan Stadion ini satu dari 3 stadion standar A AFC di Indonesia.Stadion ini menjadi stadion utama pada upacara pembukaan dan penutupan SEA Games 2011 di Palembang.
READMORE
 

Burgo Palembang

Burgo, berbahan dasar tepung beras dan tepung sagu yang dibentuk mirip dadar gulung yang kemudian diiris, dinikmati dengan kuah santan. Ciri khas utama Burgo yakni disajikan berkuah.  Kuah Burgo terbuat dari air perasan kelapa muda parut atau santan dan dimasak bersama dengan beraneka bumbu dapur, seperti lengkuas, kencur, serta bawang putih yang telah dihaluskan. Biasanya, di dalam kuah Burgo juga diberi beberapa helai daun salam sebagai tambahan penyedap rasa. Seakan tak pernah ketinggalan, di dalam kuah Burgo terdapat irisan tipis daging ikan gabus yang telah direbus terlebih dahulu.






Cara Membuat Burgo
Bahan:
150 g tepung beras
30 g tepung kanji
1/4 sdt garam
150 ml air mendidih
250 ml air
Bahan kuah:
150 g ikan gabus
250 ml santan dari 1/4 butir kelapa
2 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan
50 ml air
garam secukupnya
sedikit minyak untuk menumis dan mengoles wajan dadar
bawang merah goreng secukupnya

Bumbu halus:
3 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdt ketumbar
1 cm kunyit
1 cm jahe
1 cm lengkuas
1 butir kemiri
Cara membuat:
1. Kukus ikan, angkat dan suwir-suwir. Sisihkan.
2. Burgo: Campur tepung beras, tepung kanji, dan garam. Aduk rata. Tuang air mendidih, aduk rata. Tambahkan air, aduk rata. Panaskan wajan dadar, oles dengan sedikit minyak. Tuang dua sendok sayur adonan, buat dadar. Panaskan hingga matang. Angkat lalu gulung, potong-potong dan sisihkan. Lakukan hingga adonan habis.
3. Kuah: Panaskan minyak, tumis bumbu halus, serai, dan daun salam hingga harum. Tuang air, masukkan ikan. Tambahkan santan dan garam, masak sambil diaduk hingga mendidih, angkat.
4. Atur burgo di atas piring saji, tuang kuah beserta isinya. Taburi dengan bawang merah goreng. Sajikan.
READMORE
 

Legenda Pulau Kemaro

Sejarah Pulau Kemaro

Pulau Kemaro terletak di daerah Sumatera Selatan, tepatnya di tengah sungai Musi yang membelah kota Palembang. Kemaro sendiri merupakan bahasa Palembang, yang berarti kemarau. Menurut masyarakat Palembang, dinamakan pulau Kemaro karena pulau ini tidak pernah digenangi air. Walaupun volume air di sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tetap saja kering. Karena keunikan inilah, masyarakat sekitarnya menjulukinya sebagai Pulau Kemaro.


Pulau Kemaro terletak di sebuah delta yang berada di tengah-tengah sungai Musi, sekitar 5 km arah hulu. Di dalam pulau ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makan dari Putri Sriwijaya Siti Fatimah yang menceburkan diri ke Sungai Musi.


Menurut cerita, pada zaman dahulu seorang putri dari raja Sriwijaya bernama Siti Fatimah dilamar oleh putra raja dari negeri Tiongkok bernama Tan Bun Ann. Raja Sriwijaya ini mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tan Bun Ann. Persyaratannya adalah Tan Bun Ann harus menyediakan 7 guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann pun menerima syarat yang diajukan itu. Untuk menghindari bajak laut, emas yang berada di dalam guci-guci itu dilapisi sayur-mayur oleh keluarga tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.

Pada suatu hari rombongan Tan Bun Ann tiba dari Tiongkok dengan 9 guci emas yang telah dijanjikan. Namun, setelah diminta menunjukkan isi gucinya oleh raja Sriwijaya, Tan Bun Ann terkejut karena melihat sayur mayur di dalam 9 guci yang dibawanya. Karena kaget dan marah, tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung melemparkan guci-guci tersebut ke dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihatlah kepingan emas yang berada di dalamnya.


Rasa penyesalan yang membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan tak terduga, ia menceburkan diri ke dalam Sungai Musi. Melihat kejadian tersebut, Siti Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai, sambil berkata, “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya.” Dan ternyata benar, tiba-tiba dari bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang menjadi pulau Kemaro ini.


Apabila kita berkunjung ke pulau Kemaro, akan didapati tiga buah gundukan tanah yang menyerupai batu karang, dimana setiap gundukan diberi semacam atap dari kayu dan diberi batu nisan dengan tulisan Tiongkok yang didominasi warna merah. Menurut cerita, gundukan tanah yang di tengah adalah makam sang putri. Sedangkan dua gundukan tanah yang ada di sebelanya merupakan makam ajudan dari pangeran Tiongkok dan dayang kepercayaan sang putri. Hingga kini makam-makam tersebut masih terawat baik sebagai legenda pulau Kemaro.

Pulau ini akan ramai di datangi oleh para pengunjung etnis cina baik dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Cina dan beberapa negara lainnya terutama pada saat Cap Go Me (15 hari setelah Imlek) , dan di sana ada sebuah pohon langka yang di sebut pohon cinta dimana apa bila pasangan muda-mudi yg berpacaran apabila mengukir nama mereka konon cinta mereka akan berlanjut ke pelaminan.


Perjalanan Ke Pulau Kemaro
Sungai Musi yang membelah Kota Palembang, Sumatra Selatan, menjadi Seberang Ulu dan Seberang Ilir memang banyak menyimpan pesona alam yang indah. Sungai dengan sembilan anak sungai besar yang bermuara ke Laut Bangka itu sangat menarik sebagai objek wisata bagi turis domestik maupun mancanegara.
Namun, menurut para wisatawan, lokasi seputaran jembatan ampera ini banyak bercokol ‘preman’ yang sering meresahkan ketika sedang menikmati suasana jembatan yang dulunya bernama jembatan bung karno ini.
Sepanjang perjalanan, para turis akan disuguhi pemandangan pinggiran Sungai Musi yang benar-benar indah. Salah satunya ialah Jembatan Ampera sebagai penghubung Kota Palembang, Seberang Ulu, dan Seberang Ilir yang tampak gagah. Tampak pula Masjid Lawang Kidul yang berdiri di pinggir Sungai Musi.

Adat Istiadat Di Pulau Kemaro
Di Pulau Kemaro ini terlihat adanya dua unsur keyakinan yang tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan didalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan sang pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru.

Legenda Harta Karun Di Pulau Kemaro
Dahulu ada saudagar kaya dia mau menikah di atas pulau kemaro (agama china) , lumayan jauh rumahnya jadi naek perahu beserta harta karun yg bnyk , jadi untuk menghindari dari pembajak , pembawa kapal menimpa emas – emas tersebut dengan sambel caluk. ketika pembajak mencuri harta tersebut pembajak pun aneh , mengapa isinya sambel . lalu pembajak itu marah dan harta tersebut di buang ke dalam sungai musi , karena harta itu untuk pernikahan . jadi mempelai laki-laki terjun ke dalam sungai dan berusaha mengambil harta tersebut , namun kaki lelaki tersebut tersangkut di tanaman yg tumbuh di bawah sungai . mempelai perempuan pun khawatir dan menyusul pangerannya , perempuan tsb berusaha menolong , tetapi kakinya pun tersangkut di tanaman tsb . apa boleh hal . mereka meninggal dan hartanya pun tenggelam . hidup abadi di bawah sungai musi
READMORE
 

Perjuangan di Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak


Kuta Besak adalah keraton pusat Kesultanan Palembang Darussalam, sebagai pusat kekuasaan tradisional yang mengalami proses perubahan dari zaman madya menuju zaman baru di abad ke-19. Pengertian KUTO di sini berasal dari kata Sanskerta, yang berarti: Kota, puri, benteng, kubu (lihat ‘Kamus Jawa Kuno – Indonesia’, L Mardiwarsito, Nusa Indah Flores, 1986). Bahasa Melayu (Palembang) tampaknya lebih menekankan pada arti puri, benteng, kubu bahkan arti kuto lebih diartikan pada pengertian pagar tinggi yang berbentuk dinding. Sedangkan pengertian kota lebih diterjemahkan kepada negeri.

7 kaki. Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion (baluarti). Di dalam masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga ini dapat juga dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak (lihat LJ. Sevenhoven, Lukisan, halaman 14).

Benteng Kuto Besak 1935 an

Pengukuran terbaru para konsutan sendiri mendapatkan ukuran yang sedikit berbeda, yaitu panjang 290 meter dan lebar 180 meter. Pendapat de Sturler megenai kondisi benteng Kuto Besak:

“… lebar 77 roede dan panjangnya 44 roede, dilengkapi dengan 3 baluarti separo dan sebuah baluarti penuh, yang melengkapi keempat sisi keliling tembok. Tembok tersebut tebalnya 5 kaki dan tinggi dari tanah 22 dan 24 kaki.

Di bagian dalam di tengah kraton disebut Dalem, khusus untuk tempat kediaman raja, lebih tinggi beberapa kaki dari bangunan biasa. Seluruhnya dikelilingi oleh dinding yang tinggi sehingga membawa satu perlindungan bagi raja. Tak seorang pun boleh mendekati tempat tinggal raja ini kecuali para keluarganya atau orang yang diperintahkannya. Bangunan batu yang lain dalam kraton adalah tempat untuk menyimpan amunisi dan peluru”.

Pada saat peperangan melawan penjajah Belanda tahun 1819, terdapat sebanyak 129 pucuk meriam berada di atas tembok Kuto Besak. Sedangkan saat pada peperangan tahun 1821, hanya ada 75 pucuk meriam di atas dinding Kuto Besak dan 30 pucuk di sepanjang tembok sungai, yang siaga mengancam penyerang.






Menggambarkan ketika Sultan Mahmmud Badaruddin II sedang di giring belanda ke pengasingan di ternate  tahun 1821 setelah perang Palembang ke III dengan latar belakan benteng Kuto Besak (Ilustrasi)


Benteng Kuto Besak ini sebenarnya adalah keraton keempat dari Kesultanan Palembang. Pada awalnya keraton Kesultanan Palembang bernama Kuto Gawang dan terletak di lokasi yang sekarang dijadikan pabrik pupuk Sriwijaya.

Tahun 1651, ketika Bangsa Belanda ingin memegang monopoli perdagangan di Palembang, keinginan tersebut ditentang oleh Sultan Palembang, sehingga terjadi perselisihan yang puncaknya adalah penyerbuan terhadap keraton tersebut. Penyerbuan yang disertai pembumihangusan tersebut menyebabkan dipindahkannya pusat pemerintahan ke daerah Beringinjanggut di tepi Sungai Tengkuruk, di sekitar Pasar 16 Ilir sekarang.

Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724 -- 1758) pusat pemerintahan tersebut dipindahkan lagi ke lokasi yang sekarang menjadi lokasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Selanjutnya pusat pemerintahan berpindah lagi ke lokasi yang baru, yaitu yang sampai sekarang dikenal dengan nama Kuto Besak (Hanafiah 1989).

Secara spesifik sistem pertahanan di Benteng Kuto Besak menunjukan bahwa pada saat itu Sultan Mahmud Baharuddin I telah memperhitungkan dengan cermat tentang bagaimana cara melindungi pusat pemerintahannya. Pendirian benteng yang berada di lahan yang dikelilingi oleh sungai-sungai jelas menunjukkan bahwa siapapun yang ingin masuk ke keraton sultan tidak dapat secara langsung mendekati bangunan tersebut tetapi harus melalui titik-titik tertentu sehingga mudah dipantau dan cepat diantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara lain seperti penyerangan mendadak.

Secara keseluruhan Benteng Kuto Besak berdenah persegipanjang dan berukuran 288,75 m x 183,75 m, serta menghadap ke arah tenggara tepat di tepi Sungai Musi. Di tiap-tiap sudut benteng terdapat bastion, tiga bastion di sudut utara, timur dan selatan berbentuk trapesium sedangkan bastion sudut barat berbentuk segilima. Benteng Kuto Besak memiliki tiga pintu gerbang, yaitu di sisi timur laut dan barat laut serta gerbang utama di sisi tenggara.

Tembok keliling Benteng Kuto Besak sendiri juga mempunyai keunikan, yaitu bentuk dinding yang berbeda-beda pada masing-masing sisi benteng, demikian juga dengan tingginya. Dinding tembok sisi timur laut mempunyai ketebalan yang sama, ketinggian dinding tembok bagian depan adalah 12,39 m sedangkan bagian dalam 13,04 m, sehingga bagian atasnya membentuk bidang miring yang landai. Tampak muka dinding sisi timur laut ini juga dihiasai dengan profil. Sama dengan dinding sisi tenggara, dinding sisi timur laut juga dilengkapi dengan celah intai yang berbentuk persegi dengan bagian atas berbentuk melengkung. Lubang celah intai tersebut juga berbentuk mengecil di bagian tengahnya.

Dinding tembok sisi barat daya mempunyai dua bentuk yang berbeda. Secara umum tembok sisi barat daya ini dibagi dua karena di bagian tengahnya terdapat pintu gerbang. Dinding tembok sisi barat daya bagian selatan mempunyai bentuk dimana bagian bawahnya lebih tebal dari pada bagian atas, yaitu 1,95 m dan 1,25 m tetapi bagian dalam dan luar dinding mempunyai ketinggian yang sama yaitu  2,5 m. Dinding tembok sisi barat daya bagian utara mempunyai bentuk dimana bagian bawah lebih tebal daripada bagian atas yaitu 2,35 m dan 1,95 m. Ketinggian dinding bagian dalam dan luar adalah 2,5 m.

Dinding tembok sisi barat laut memiliki bentuk yang hampir serupa dengan dinding tembok barat daya bagain selatan. Tebal dinding bagian bawah adalah 1,6 m sedangkan bagian atas 1,15 m. Ketinggian dinding adalah 2,25 m.

Saat ini keadaan Benteng Kuto Besak telah mengalami beberapa perubahan. Secara kronologi tinggalan-tinggalan arkeologi yang berada di Benteng Kuto Besak berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam dan Kolonial Belanda. Secara khusus tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah tembok keliling dan pintu gerbang bagian barat daya; sedangkan tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kolonial Belanda adalah gerbang utama Benteng Kuto Besak dan beberapa bangunan yang terdapat di dalam benteng. Berdasarkan gaya arsitekturnya, bangunan-bangunan di dalam Benteng Kuto Besak diidentifikasikan bergaya Indis yang berkembang di Indonesia pada awal abad ke XX.

 
READMORE
 

Masjid Agung Dan Sejarahnya

Masjid Agung Dan Sejarahnya
nama lengkap masjid ini adalah Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II. dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. dulunya masjid ini bernama masjid Sultan, sebagai bentuk penghargaan kepada Sultan Mahmud Badaruddin I sebagai pendiri nya. Masjid Agung berada di kelurahan 19 ILIR Palembang di persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Jendral Sudirman tepat di Pusat Kota Palembang. awal dibangun masjid agung ini memiliki sentuhan Arab, Jawa, China dan Melayu. tetapi setelah di renovasi Masjid Agung lebih mengadopsi Gaya Eropa yang beraliran Mediterania dan Timur Tengah. seni arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid, yang besar dan tinggi. Sedangkan seni arsitektur China yang masih bertahan dapat dilihat di bagian masjid utama, yang atapnya seperti kelenteng.
Pemakaian Resmi

tanggal 26 Mei 1748 masjid agung resmi di pakai, dengan luas bangunan awal seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. sebagaimana Masjid masjid tua pada zaman dahulu, masjid agung yang dulu tidak memiliki menara.
Perluasan Pertama
tahun 1897, Masjid Agung mengalami perluasan untuk pertama kali nya, wakaf dari Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab peluasan ini di pimpin oleh Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin

Pembangunan Menara Masjid Agung
tahun 1758 - 1774 pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin, di bangun lah menara Masjid Agung yang terletak terpisah di sebelah barat, Bentuknya seperti pada menara kelenteng dengan atap berujung melengkung. di bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan menara.

Renovasi dan Pembangunan Masjid Agung Palembang
mulanya perbaikan dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda setelah terjadinya perang besar di tahun 1819 dan 1821. kemudian dilakukan pula perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, renovasi dan pembangunan di tahun 1970-an yang di lakukan oleh Pertamina, meliputi pembangunan menara sehingga mencapai bentuk yang sekarang. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tetap di pertahankan.

Perluasan Masjid Agung
Perluasan kedua kali dilakukan pada tahun 1930. dan di tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh pihak Yayasan Masjid Agung. kemudian tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid menjadi 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jemaah.

Pemugaran Besar Besaran
Tahun 1999 dilakukan pemugaran besar-besaran oleh Mantan Gubernur Sumatera Selatan Haji Rosihan Arsyad, orisinalitas arsitektur masjid Agung kembali ditonjolkan.kondisi lingkungan dan bangunan masjid tampak lebih di permegah.sedangkan bangunan-bangunan yang menghalangi pandangan mata kearah Masjid Agung pun dibongkar.
READMORE
 

Biografi Jembatan Ampera

Sejarah Jembatan Ampera
Pembangunan jembatan gerak ini dimulai pada bulan april 1962, setelah mendapat persetujuan dari presiden soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang jepang dalam kata lain semua di tanggung oleh pemerintah jepang dari kontraktor dan pekerja.

Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai jembatan bung karno. Menurut sejarawan djohan hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada presiden ri pertama itu. Bung karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas sungai musi.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi sungai musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah jembatan ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.Sejak tahun 1970, jembatan ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara seberang ulu dan seberang ilir, dua daerah kota palembang yang dipisahkan oleh sungai musi.
Jembatan ampera pernah direnovasi pada tahun 1981, dengan menghabiskan dana sekitar rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan jembatan ampera bisa membuatnya ambruk.

Bersamaan dengan eforia reformasi tahun 1997, beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri. Pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi. Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.

Setelah merdeka, masyrakat seberang ulu dan seberang ilir jika hendak menyeberang. Mereka menggunakan transportasi air berupa perahu atau tongkang. Masyrakat Palembang lalu meminta kepada Presiden RI pertama, Ir Soekarno untuk membuat jembatan yang dapat memudahkan akses transportasi melakukan penyeberangan. Soekarno setuju. Pembangunan jembatan dimulai 16 September 1960 silam. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampas an perang Jepang yang ditaksir kala itu sekitar 2,5 miliar yen. Tenaga ahli juga didatangkan dari negeri matahari terbit tersebut. Semula bagian tengah badan Jembatan Ampera ini bisa diangkat bila ada kapal besar yang lewat di bawahnya. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan mengangkat hanya butuh 30 menit untuk mengangkat penuh jembatan. Namun kemampuan untuk angkat badan jembatan itu hanya bertahan sekitar 10 tahun. Sebab pada tahun 1970, bagian tengah jembatan ini sudah tidak dapat diangkat lagi karena arus lalu lintas sudah mulai ramai yang melewati jembatan itu. Kapal kecil yang memiliki ketinggian maksimal 9 m, masih dapat lewat di bawah jembatan kebanggan wong kito ini. Tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara ini diturunkan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
                Jembatan Ampera semula berwarna abu-abu. Kemudian sempat diubah warna kuning pada masa Orde Baru. Kemudian di masa kepemimpinan Wali Kota Eddy Santana Putra, warna jembatan itu itu dicat merah. Eddy Santana yang ingin menghidupkan wisata bahari Palembang. Menghiasi jembatan tersebut dengan lampu-lampu yang menarik. Alhasil landscape berlatar belakang Jembatan Ampera sangat indah dengan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menawan. Ada juga orang yang berkomentar melihat Jembatan Ampera setelah dipoles, laksana melihat jembatan San Fransisco di malam hari. Mungkin perbandingan ini amat jauh namun sedikitnya wong Palembang, boleh bangga karena keindahan jembatan itu mulai menyedot perhatian. Obsesi Eddy Santana untuk menjadikan Jembatan Ampera sebagai ikonnya kota Palembang secara internasional berangsur-angsur sepertinya mulai terwujud. Televisi nasional mulai sering menggelar event nasional berlatar belakang jembatan tersebut.
                Jembatan Ampera atau orang-orang tua kadang menyebutnya ‘Proyek’ diresmikan Letjen Ahmad Yani, pada 30 September 1965. Ini merupakan kiprah terakhir Letjen Ahmad Yani di Sumsel karena besoknya beliau tewas dibunuh oleh Gerakan 30S-PKI. Mulanya jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno. Pemberian nama ‘Bung Karno’ sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Sumsel khususnya warga Palembang karena Presiden Soekarno telah mengabulkan permintaan masyarakat agar dibangunkan jembatan. Namun saat itu wibawa Bung Karno sedang merosot tajam apalagi pasca peristiwa penculikan tujuh jenderal dalam Gerakan 30S-PKI. Gerakan Anti-Soekarno, menyebar dimana-mana sehingga berakibat juga pergantian nama jembatan menjadi Jembatan Ampera yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat.
                Jembatan kebanggan wong Sumsel ini, sudah sering tertabrak kapal pembawa batu bara yang melintas di bawahnya. Selain memang sudah berumur ada benturan keras itu menyebabkan pergeseran sehingga diperlukan renovasi. Tahun 1981, pemerintah menghabiskan dana sekitar Rp. 850 juta dalam melakukan renovasi. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuat ambruk. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Januari 2008 silam, sebuah tongkang pembawa batu bara menabrak jembatan ini hingga menyebabkan salah satu tiang fender patah. Seorang peramal asal Belanda, Mama Laurent juga pernah meramalkan pada tahun 2007 Jembatan Ampera akan ambruk jika tidak dilakukan renovasi. Memang ramalan itu tidak terbukti apalagi pemerintah menyikapinya dengan melakukan renovasi. Pemerintah Jepang juga pernah melakukan riset yang kesimpulannya menyatakan Jembatan Ampera masih tetap kokoh sampai 50 tahun lagi.
READMORE
 

Kemplang Palembang

Orang Palembang menyebut kerupuk dengan nama kemplang. Tetapi sesungguhnya ada perbedaan khusus antara kerupuk seperti yang selama ini kita kenal dengan kemplang. Secara pembuatan memang tidak berbeda jauh, tetapi penyelesaiannya berbeda. Kerupuk digoreng, sedang kemplang dibakar.
Ada tiga jenis utama kerupuk atau kemplang yang dijual yaitu ikan gabus, belida, dan tenggiri. Yang terbuat dari ikan tenggiri, rasa dan aromanya lebih tajam. Untuk membuat kerupuk-kerupuk ini dibutuhkan waktu 3 hari. Dari tiga bahan dasar tadi dibuat aneka bentuk kerupuk. Dari yang ukurannya bulat kecil (garis tengah 4 cm), bulat lebih besar, oval, sampai seperti mi yang bergulung-gulung. Anda tinggal memilih bahan dasarnya sekaligus bentuk dan ukuran kantongnya.
READMORE